KANALSATU – Produk furnitur dari Indonesia banyak sekali dikagumi oleh negara-negara terutama di benua Eropa. Dan Tren perdagangan produk furnitur Indonesia ke luar negeri inj menunjukkan trend positif dengan pertumbuhan signifikan. Di Eropa, khususnya Jerman, perdagangan ekspor Indonesia ditarget mencapai pertumbuhan US$2,9 miliar atau sekitar Rp31,9 triliun untuk realisasi sampai dengan akhir tahun 2014.

“Dengan target pertumbuhan ekspor produk hasil hutan pada tahun 2014 senilai US$117,8 juta,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Nus Nuzulia Ishak, seperti yang dikutip dalam keterangan persnya, Senin (1/9/14).

Nus meyakini, realisasi target tersebut bisa terpenuhi seiring minat negara Jerman terhadap produk furnitur Indonesia. Ia mengaku, perdagangan produk furnitur ke Jerman mengalami tren positif. “Meningkat 17, 14% atau senilai US$32,09 juta atau sekitar Rp 352,9 miliar,” akunya.

Ditambahkan Nus peningkatan ini cukup menggembirakan, setelah periode sebelumnya perdagangan furniture Indonesia sempat mengalami penurunan sekitar 14,24%. Nus mengatakan, Jerman menempati urutan ketiga tujuan ekspor furnitur Indonesia dan menempati posisi pertama untuk wilayah Eropa. “Jerman ini juga menjadi tujuan utama ekspor produk furnitur Indonesia,” tegasnya.

Disebutkan, pada 2013 lalu nilai perdagangan furnitur Indonesia ke Jerman mencapai US$67,5 juta atau setara dengan Rp742,5 miliar. Untuk terus meningkatkan daya saing produk furnitur Indonesia di Jerman dan Eropa, Ditjen PEN Kementerian Perdagangan menggenjot promosi. Direktorat dengan berpartisipasi pada pameran Spoga Fair di Koln, Jerman. “Pameran yang kepesertaannya disiapkan melalui program pelatihan ekspor merupakan kegiatan yang dapat mendukung tercapainya target ekspor menurut produk ke negara tujuan ekspor yaitu Jerman,” tuturnya.

Spoga Fair merupakan salah satu pameran internasional terkemuka untuk produk furnitur outdoor, diadakan mulai 31 Agustus – 2 September.  Dalam pameran ini Kemendag menempati paviliun seluas 238 m2 pada Indonesian Country Pavillion yang merupakan kerja sama Ditjen PEN dan Swiss Import Promotion Program (SIPPO).

Peserta pameran adalah perusahaan-perusahaan yang telah lulus seleksi audit dan telah mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan oleh SIPPO. Dalam program ini, setiap perusahaan dipersyaratkan mengikuti pelatihan selama 3 tahun berturut-turut dan hanya diberi kesempatan mengikuti pameran sebanyak tiga kali. “Ada 10 perusahaan yang terpilih ikut dalam pameran,” kata Nus.

Menurutnya, selain 10 perusahaan, Atase Perdagangan RI di Berlin juga terlibat dalam pameran dengan menempati area 55 m2. Terdapat beberapa perusahaan dari program pelatihan sebelumnya, masing-masing PT Elmas Natura, Jakarta dan PT Khavindo Mebel Indonesia, Cirebon. “Tujuannya untuk menciptakan kemandirian dalam persaingan global,” pungkas Nus.(win8/12).

Sumber : http://kanalsatu.com/id/post/30616/akhir_2014__ekspor_furniture_indonesia_target_rp31_9_t

News